Jumat, 02 Juni 2017

MACAM-MACAM CEDERA

MACAM-MACAM CEDERA OLAHRAGA
1.      Sprain
Sprain lebih dikenal dengan sebutan keseleo. Sprain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada ligament (jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang) atau kapsul sendi, yang memberikan stabilitas sendi. Kerusakan yang parah pada ligament atau kapsul sendi dapat menyebabkan ketidakstabilan pada sendi. Gejalanya dapat berupa nyeri, inflamasi/peradangan, dan pada beberapa kasus, ketidakmampuan menggerakkan tungkai. Sprain terjadi ketika sendi dipaksa melebihi lingkup gerak sendi yang normal, seperti melingkar atau memutar pergelangan kaki.
Sprain atau keseleo adalah jenis cedera yang paling sering dialami oleh para pemain sepak bola. Keseleo yang dialami mulai dari bagian pergelangan kaki, kaki bagian bawah, hingga lutut merupakan bagian-bagian yang paling sering terjadi di sepak bola, terutama bagian pergelangan dan medial collateral ligament (semacam pengikat sendi tulang). Untuk menghindari keseleo, diperlukan pemanasan yang cukup dan stretching yang tepat bisa mencegah terjadinya cedera tersebut.
Lutut adalah persendian yang paling besar dalam tubuh kita dan memliki anatomi yang sangat kompleks. Pada lutut terdapat dua buah lapisan condyle yang saling berhubungan pada ujung femur. Kedua lapisan ini hampir semuanya menempel pada permukaan ujung tibia (tulang gores) dan berbentuk seperti kubah. Persendian pada lutut tidak memiliki stabilitas sama sekali, stabilitas tersebut seluruhnya bergantung pada jaringan-jaringan halus (soft tissues).
Keseleo lutut sering terjadi pada jenis olahraga yang menggunakan kontak tubuh termasuk olahraga ski, jarang sekali terjadi pada olahraga lari. Atlet lari mungkin saja menderita keseleo lutut yang disebabkan oleh salah melangkah, atau tersandung dan jatuh terpelanting kedepan, sehingga menyebabkan lutut melakukan gerakan hiperekstensi
2.      Strain
Strain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada struktur muskulo-tendinous (otot dan tendon). Jenis cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah, kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi, otot belum siap. Strains sering terjadi pada bagian groin muscles (otot pada kunci paha), hamstrings (otot paha bagian bawah), dan otot quadriceps. Cedera tertarik otot betis juga kerap terjadi pada para pemain bola. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan diri dari cedera macam ini. Kuncinya dalah selalu melakukan stretching setelah melakukan pemanasan, terutama pada bagian otot-otot yang rentan tersebut.
Strain akut pada struktur muskulo-tendinous terjadi pada persambungan antara otot dan tendon. Strain terjadi ketika otot terulur dan berkontraksi secara mendadak, seperti pada pelari atau pelompat. Tipe cidera ini sering terlihat pada pelari yang mengalami strain pada hamstringnya. Beberapa kali cidera terjadi secara mendadak ketika pelari dalammlangkah penuh. Gejala pada strain otot yang akut bisa berupa nyeri, spasme otot, kehilangan kekuatan, dan keterbatasan lingkup gerak sendi. Strain kronis adalah cidera yang terjadi secara berkala oleh karena penggunaan berlebihan atau tekakan berulang-ulang, menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon). Sebagai contoh, pemain tennis bisa mendapatkan tendonitis pada bahunya sebagai hasil tekanan yang terus-menerus dari servis yang berulang-ulang. Berat ringannya sprain dan strain Therapist mengkategorikan sprain dan strain berdasarkan berat ringannya cidera. Derajat I (ringan) berupa beberapa stretching atau kerobekan ringan pada otot atau ligament. Derajat II (sedang) berupa kerobekan parsial tetapi masih menyambung. Derajat III (berat) berupa kerobekan penuh pada otot dan ligament, yang menghasilkan ketidakstabilan sendi.
Strain ringan ditandai dengan kontraksi otot terhambat karena nyeri dan teraba pada bagian otot yang mengaku strain total didiagnosa sebagai otot tidak bisa berkontraksi dan terbentuk benjolan
Cidera strain membuat daerah sekita cidera memar dan bengkak setelah 24 jam. Pada bagian memar terjadi perubahan warna, ada tanda-tanda pendarahan pada otot yang sobek, dan otot mengalami kejadian
Memar dan bengkak disekitar persendian tulang yang terkena cedera, termasuk rubahan warna kulit terjadi kemarthrosis atau pendarahan sendi. Nyeri pada persendian tulang, nyeri bila anggota badan digerakkan fungsi persendian terganggu, dll.
Pencegahannya yaitu pada saat melakukan aktivitas olahraga memakai sepatu yang sesuai, misalnya sepatu yang bisa melindungi pergelangan kaki selama aktivitas. Melakukan pemanasan (streching) sebelum melakukan aktivitas atletik, serta latihan yang tidak berlebihan.
Ø  Terapi
Pengobatan sprain dan strain adalah terapi, yang dilakukan adalah reset atau istirahat, mendinginkan area cidera, copression atau balut bagian yang cidera, elevasi atau meninggikan, membebaskan diri dari beban. Jika nyeri dan bengkak berkurang selama 48 jam setelah cidera, gerakkan persendian tulang ke seluruh arah. Hindari tekanan pada daerah cidera sampai nyeri hilang (biasanya 7-10 hari untuk cidera ringan dan 3-5 minggu untuk cidera berat), gunakan tongkat penopang ketika berjalan bila dibutuhkan.
Cidera derajat I biasanya sembuh dengan cepat dengan pemberian istirahat, es, kompresi dan elevasi (RICE). Terapi latihan dapat membantu mengembalikan kekuatan dan fleksibilitas. Cidera derajat II terapinya sama hanya saja ditambah dengan immobilisasi pada daerah yang cidera. Dan derajat III biasanya dilakukan immobilisasi dan kemungkinan pembedahan  untuk mengembalikan fungsinya. Kunci dari penyembuhan adalah evaluasi dini dengan professional medis. Sekali cidera telah ditentukan, rencana terapi dapat dikembangkan. Dengan perawatan yang tepat, kebanyakan sprain dan strain akan sembuh tanpa efek samping.
Kunci dari penyembuhan adalah evaluasi dini dengan professional medis. Sekali cidera telah ditentukan, rencana terapi dapat dikembangkan. Dengan perawatan yang tepat, kebanyakan sprain dan strain akan sembuh tanpa efek samping.
3.      Knee Injuries
Adalah cidera yang terjadi karena adanya paksaan dari tendon. Saat mengalami cidera ini akan merasakan nyeri tepat dibawah mangkuk lutut setelah melakukan latihan olahraga. Rasa sakit itu disebabkan oleh gerakan melompat, menerjang maupun melompat dan turun kembali.
Ada beberapa jenis cedera lutut yang umum dialami oleh pemain bola, yaitu cedera pada medial collateral ligament, meniscus, dan anterior cruciate ligament, baik itu sobek pada jaringan, maupun putusnya jaringan tersebut. Pengenaan sepatu yang tepat, kondisi lapangan yang baik, dan latihan kekuatan (strength training) yang tepat bisa mengurangi risiko terjadinya cedera lutut.
Plica Syndrome of The Knee
Sindrom plica disebabkan oleh adanya penebalan pada lapisan persediaan lutut. Biasanya terjadi pada bagian dalam tepat pada perbatasan patella (mangkuk lutut) bagian atas.lapisan-lapisan persendian tersebut tersebut tersusun dari jaringan yang dinamakan synovium. Jaringan synovium ini memproduksi cairan pelumas yang disebut cairan synovial. Jika terjadi penebalan pada lapisan ini lapisan akan menggesek pada bagian-bagian lutut lainnya, khususnya bagian dalam femural condyle (ujung bagian bawah dari tulang paha) sehingga menimbulkan rasa sakit dan iritasi.
Kebanyakan para pelari cenderung menderita sindrom plica ini. Para pelari ini merasakan sakit pada bagian dalam lutut. Beberapa orang ada yang lebih cepat merasakan sakit ini apalagi bila sedang berlari mendaki, karena lutut lebih banyak melakukan gerakan fleksi atau menekuk. Sindrom ini memiliki gejala yang hampir sama dengan sindrom chondromalasia.
4.      Compartment Syndrome
Para atlet pada umumnya sering mengalami permasalahan (gangguan rasa nyeri atau sakit) yang terjadi pada kaki bawah (meliputi daerah antara lutut dan pergelangan kaki). Terkadang rasa sakit/nyeri tersebut terjadi karena adanya suatu sindrom kompartemen
Diagnosa terhadap sindrom terhadap sindrom tersebut dilakukan dengan cara perkiraan, karena pola karakteristik (gejala) dan rasa sakit tersebut dan ukuran-ukuran tekanan kompartemennya. Diantara beberapa penyakit yang menyertai sindrom ini dapat diatasi dengan pembedahan (operasi).
5.      Shin Splints
Istilah shin aplints kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan adanya rasa sakit (cidera pada kaki bagian bawah yang  seringkali terjadi terjadi akibat melakukan berbagai aktivitas olahraga, termasuk olahraga lari. Shin splints tersebut dibedakan menjadi dua jenis menurut lokasi rasa sakitnya. Anterior Shin Splints, yaitu rasa sakit yang terjadi pada bagian depan (anterior) dari tulang gares (tibia). Dan yang kedua adalah Posterior Shin Splints, rasa sakit tersebut terasa pada bagian dalam (medial) kaki pada tulang tibia
Shin splints disebabkan oleh adanya robekan sangat kecil pada otot-otot kaki bagian bawah yang berhubungan erat dengan tulang gares. Pertama-tama akan mengalami rasa sakit yang menarik-narik setelah melakukan lari. Apabila keadaan ini dibiarkan dan terjadi terus, maka akan semakin parah, bahkan dapat juga terasa sakit meskipun pada saat kita berjalan kaki. Rasa sakit/perih tersebut biasanya terasa seperti adanya satu atau beberapa benjolan kecil pada sepanjang sisi tulang gares.
Ø  Penyebab
Anterior shin splints disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan otot kaki, penyerapan goncangan oleh kaki yang tidak cukup (tidak sesuai), lari dengan posisi kaki jinjit, atau terjadinya pronasi yang berlebihan pada kaki. Kelompok otot posterior yang berada di belakang kaki bagian bawah berperan sekali terutama pada waktu menggerakkan tubuh kita ke arah depan. Pada umumnya otot-otot ini lebih kuat daripada otot-otot pada bagian depan kaki bawah, sehingga hal ini akan menimbulkan adanya ketidakseimbangan otot. Pada saat kita berlari, otot-otot kaki bagian depan (anterior) mengangkat tungkai keatas kearah kaki. Sehingga memberikan ruangan bebas untuk mengayun kedepan. Otot ini juga yang mempersiapkan kaki pada saat akan menginjak tanah. Beberapa usaha menegangkan pada otot kaki yang berlawanan (posterior) akan memberikan ketegangan yang tidak sesuai pada otot-otot anterior, sehingga hal ini dapat mengakibatkan terjadinya shin splints. Penyerapan terhadap goncangan secara tidak sempurna juga dapat mengakibatkan terjadinya anterior shin splints.
6.      Achilles Tendon Injuries
Cedera pada tendon achilles ini menempati peringkat pertama yang sering terjadi pada atlet dan paling sulit untuk merawat/menyembuhkannya. Cedera tersebut berkisar dari tendinitis ringan sampai pada pemutusan tendon yang parah. Kunci dari diagnosa tahap-tahap cidera ini adalah pengenalan pada tanda-tanda dan gejala-gejala yang terjadi.
7.      Fractures
Cedera seperti ini dialami apabila pemain yang bersangkutan mengalami benturan dengan pemain lain atau sesuatu yang keras. Cedera fractures tidak hanya terjadi pada bagian kaki macam tulang paha, tulang kering, tulang selangkangan, atau tulang telapak kaki, tapi juga kerap terjadi pada lengan, bahu, hingga pergelangan tangan. Untuk menghindari cedera macam ini, penggunaan pelindung sangat dianjurkan untuk meminimalisir patah atau retak tulang. Kasus Wayne Rooney merupakan salah satu contoh cedera fractures yang cukup membuat pusing Alex Fergusson.
Setiap tulang yang mendapatkan tekanan terus-menerus diluar kapasitasnya dapat mengalami keretakan (stress fracture). Keretakan tulang secara teknis adalah pemutusan yang terjadi pada tulang bahkan mengalami pecah akibat adanya tekanan pada tulang yang tanpa disadari oleh atlet, sehingga perlu dilakukan diagnosa. Retak tulang dapat saja terjadi dimana saja pada tubuh kita. Kebanyakan terjadi pada kaki yang disebabkan pada tekanan yang besar sekali pada saat melakukan gerakan melompat maupun lari. Kelemahan pada struktur tulang sering terjadi pada atlet ski, jogging, berbagai atlet lari, dan pendaki gunung maupun para tentara, mereka ini mengalami march fracture.
8.      Dislocation
Tempurung lutut penting sekali dalam setiap aktivitas olahraga yang banyak membutuhkan gerakan pada kaki bawah. Patella merupakan lapisan piringan sendi tulang yang terletak pada ujung femur. Femur ini memiliki celah pada ujungnya, yang merupakan tempat patella pada saat kaki melakukan gerakan menekuk. Jika patell keluar dari celahnya dan berpindah kesalah satu sisi akan menimbulkan pergerakan letak. Pergeseran yang tidak pada tempatnya ini merupakan subluksi, dimana tempurung lutut tidak menempati posisi sebagaimana mestinya tetapi menyelip sedikit ke salah satu sisi ini akan menimbulkan rasa sakit dan dapat diperkirakan telah terjadi pergeseran tempat patella
Dan yang khas, atlet yang menderita dislokasi (pergeseran) tempurung lutut akan melakukan beberapa gerakan memutar pada saat melangkah kesamping atau gerakan pengayun pemukul baseball. Pada keadaan ini, kaki bagian belakang akan memutar kearah dalam dan tempurung lutut bergeser dari tempatnya (kearah luar). Atlet akan merasakan sakit yang amat sangat pada lututnya, bahkan terkadang lutut tersebut tidak dapat diluruskan. Pada saat dilakukan pemeriksaan, ternyata patella tersebut masih tergeser dari tempatnya.


PINGSAN DALAM OLAHRAGA


A.    PINGSAN ADALAH
Pingsan atau yang dalam bahasa kedokteran disebut sinkop/syncope, adalah suatu keadaan di mana terjadi kehilangan kesadaran dan postur tubuh (menyebabkan penderita jatuh) secara sementara. Pingsan merupakan suatu gejala dan bukan penyakit, sehingga pada kasus pingsan harus diketahui penyebab pingsan tersebut. Pingsan yang terjadi pada seseorang dapat merupakan gejala yang ringan sampai gejala yang mengancam jiwa. Dengan demikian, perlu diketahui tanda-tanda pingsan yang membahayakan jiwa.
Pingsan merupakan gejala yang umum terjadi, diperkirakan sepertiga dari kita pernah mengalami pingsan minimal sekali dalam hidupnya. Gjala pingsan dapat terjadi pada semua rentang usia, namun paling banyak terjadi pada orang tua. Gejala pingsan umumnya tidak berbahaya, namun pingsan dapat mengakibatkan komplikasi yang serius. Komplikasi kejang dapat terjadi pada pingsan akibat otak kekurangan oksigen. Pingsan yang disebabkan oleh penyakit jantung dapat bersifat fatal dan menyebabkan kematian.
Gejala pingsan terjadi dan timbul secara mendadak, dan biasanya menyebabkan trauma (akibat kehilangan postur tubuh dan pasien jatuh). Kehilangan kesadaran terjadi sementara dalam waktu detik hingga menit dan kemudian penderita akan kembali sadar. Pada beberapa kasus pingsan, terdapat gejala awal yang mendahului hilangnya kesadaran. Gejala awal yang dapat terjadi adalah mual, berkeringat, merasa berdebar-debar, pucat atau penglihatan kabur (menjadi gelap dan hitam atau menjadi putih). Gejala pingsan yang disebabkan oleh penyakit jantung akan memberikan gejala berupa nyeri dada, nyeri perut bagian ulu hati (epigastrium), sesak nafas, kelelahan terutama bila beraktivitas.
Banyak hal yang dapat menyebabkan pingsan pada seseorang. Secara umum, penyebab pingsan dapat dibagi dalam 3 kategori, yaitu sistem kardia (jantung), non-kardiovaskular, dan penyebab yang tidak diketahui.
Kelainan jantung menyebabkan pingsan karena tidak cukupnya aliran darah menuju ke otak yang bersifat sementara. Gangguan aliran darah ini biasanya disebabkan saat tekanan darah yang rendah atau hipotensi. Organ jantung yang berfungsi untuk memompa darah, tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen otak. Gangguan kerja jantung dapat disebabkan karena adanya penyempitan atau sumbatan pada aliran darah, gangguan otot jantung, atau gangguan irama jantung (denyut jantung terlalu cepat atau terlalu lambat).
Irama jantung yang terlalu lambat (bradikardia) umumnya disebabkan oleh faktor usia dan efek samping obat-obatan. Sementara pingsan akibat irama jantung terlalu cepat (takikardia) biasanya disebabkan karena riwayat penyakit jantung dan dapat mengancam jiwa. Penyempitan katup jantung seperti penyempitan katup aorta (pembuluh darah besar yang keluar dari jantung) dan pembesaran otot jantung (hipertrofi kardiomiopati) dapat menyebabkan pingsan pada seseorang akibat darah terhambat saat akan keluar dari jantung. Penyempitan katup jantung disebabkan oleh  kelainan bawaan, proses penuaan, atau penyakit rematik jantung.
Sebagian besar kasus pingsan yang terjadi disebabkan oleh penyebab non-kardia. Pingsan akibat gangguan dari kemampuan pembuluh darah untuk menyempit dan melebar (vasomotor) merupakan penyebab umum yang terjadi. Bila ada suatu rangsangan atau stimulus tertentu pada saraf vagus(salah satu saraf kranial, saraf yang keluar dan masuk ke otak), maka akan mengakibatkan hipotensi pada seseorang.
Beberapa rangsangan dapat merangsang reflex vasomotor, seperti berdiri terlalu lama, atau terpapar panas yang berlebihan, nyeri yang hebat, berada di tempat keramaian, atau melihat darah. Pingsan yang disebabkan oleh reflex vasomotor umumnya dapat kembali sadar karena setelah pingsan dan jatuh, gravitasi tidak lagi menarik darah ke kaki. Sebelum seseorang pingsan, ada beberapa gejala yang dapat dirasakan seperti, pucat, berkeringat, kepala terasa ringan, mual, berkeringat, telinga berdengung, atau penglihatan menjadi gelap.
Perubahan posisi yang mendadak, seperti  berdiri tiba-tiba dari posisi duduk,  dapat menyebabkan pingsan (hipotensi ortostatik) karena kegagalan pembuluh darah untuk menyempit sehingga darah banyak terkumpul di kaki dan otak mengalami kekurangan darah. Keadaan ini umumnya disebabkan oleh dehidrasi, diabetes mellitus (kencing manis), dan obat-obatan seperti obat pelebar pembuluh darah, dan obat diuretik (obat yang menyebabkan produksi urin meningkat).
Gangguan organ yang dapat menyebabkan pingsan antara lain sistem saraf, gangguan mental, gangguan paru-paru, dan metabolisme tubuh. Pingsan akibat gangguan saraf paling sering terjadi pada kasus kejang. Biasanya akan disertai denga gerakan tubuh yang menghentak, atau gejala aura(gejala yang timbul mendahului gejala kejang, seperti melihat kilatan cahaya, atau mencium bebauan tertentu). Penyakit stroke jarang menyebabkan hilang kesadaran kecuali mengenai pusat kesadaran di otak. Gangguan metabolisme juga jarang menyebab pingsan. Beberapa gangguan yang menyebabkan pingsan adalah rendah kadar gula darah (hipoglikemia), dan gangguan persediaan oksigen ke otak (hipoksia).
Pingsan dapat juga terjadi pada wanita hamil. Gejala pingsan yang terjadi pada wanita hamil umumnya disebabkan karena penekanan pembuluh-pembuluh darah besar saat kehamilan di arena hipotensi ortostatik. Serangan pingsan atau hilang kesadaran yang berulang tanpa sebab jelas dapat juga disebabkan oleh gangguan psikologi atau tindakan untuk mencari perhatian. Umumnya pada keadaan ini, serangan pingsan terjadi pada saat situasi yang tidak mengenakan penderita (seperti saat berdebat, atau akan menjalani sesuatu yang berat). Pada penderita yang benar-benar menglamai pingsan, penderita tidak akan ingat dengan pasti kejadian saat jatuh ke tanah. Karena pingsan dapat mengancam jiwa, maka harus diketahui beberapa bentuk pingsan yang berbahaya, seperti:
·         Pingsan yang terjadi saat berolahraga;
·         Pingsan yang dihubungkan dengan rasa deg-degan (palpitasi) atau denyut jantung yang tidak beraturan;
·         Pingsan pada seseorang dengan riwayat pingsan berulang atau kematian mendadak pada keluarganya;
·         Pingsan yang didahului dengan nyeri dada, dan sesak nafas ;
·         Pingsan yang didahului dengan gejala nyeri kepala hebat, pandangan menjadi dua atau double,gangguan koordinasi tubuh, dan gangguan berbicara.
            Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami pingsan, yaitu jarang berolahraga, kegemukan atau obesitas, merokok, minum alkohol berlebihan, dan penggunaan obat-obatan secara sembarang.
Pengobatan pada penderita gejala pingsan berdasarkan penyebab dari pingsan itu sendiri. Untuk mengetahui penyebab dan penyakit yang mendasari pingsan, beberapa pemeriksaan umumnya dilakukan oleh dokter. Mulai dari menggali riwayat pasien (anamnesis), pemeriksaan fisik (pemeriksaan tekanan darah dan lainnya), dan pemeriksaan penunjang (seperti rekam jantung, USG jantung, CT scan otak, pemeriksaan darah dan lainnya).
Bila ragu apakah gejala pingsan yang terjadi berbahaya atau tidak, tindakan yang tepat adalah memanggil bantuan medis dan segera berkonsultasi ke dokter. Pingsan yang disebabkan oleh jantung dapat menggunakan obat-obatan ataupun tindakan lain, seperti pemasangan alat pacu jantung pada pasien dengan gangguan irama denyut jantung.
Bila mengetahui penyebab dari gejala pingsan, tindakan yang dapat dilakukan adalah menghindari keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan gejala pingsan. Bila gejala pingsan timbul saat ada perubahan posisi tubuh yang mendadak, maka penderita dapat mengantisipasi dengan melakukan perubahan posisi secara perlahan dan diberikan beberapa detik sebelum berubah posisi lagi.
Pada kasus pingsan yang terjadi akibat terpapar panas yang berlebihan, pasien secepatnya dipindahkan ke tempat yang sejuk dan diberikan cairan pengganti bila penderita sudah sadar. Beberapa cara menurunkan suhu tubuh pasien adalah melepas pakaian dan penderita dibaringkan miring. Selain itu dapat diberikan kompres dingin pada daerah perut, ketiak, dan leher. Penggunaan kipas angin atau udara dingin efektif menurunkan suhu tubuh penderita. Hal penting yang diperhatikan adalah menjaga agar penderita tidak menggigil.
Pencegahan yang dapat dilakukan pada orang yang mengalami pingsan adalah mencegah dehidrasi dengan minum air yang cukup, dan menghindari penyebab pingsan, misal kelelahan atau kepanasan. Pada beberapa kasus pingsan yang didahului gejala-gejala lain, bila gejala tersebut muncul, penderita dapat segera berbaring telentang dan menaikkan kaki sehingga lebih tinggi daripada posisi kepala.
Kasus pingsan yang disebabkan oleh panas, dapat dicegah dengan mengurangi paparan panas dan meningkatkan asupan cairan sebelum, selama dan setelah terpapar panas. Cairan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung elektrolit yang seimbang. Cairan yang hanya mengandung air (H2O) dapat mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit. Pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah menghindari faktor-faktor risiko berupa jarang berolahraga, kegemukan atau obesitas, merokok, minum alkohol berlebihan, dan penggunaan obat-obatan secara sembarang.


PINGSAN DALAM OLAHRAGA


A.    PINGSAN ADALAH
Pingsan atau yang dalam bahasa kedokteran disebut sinkop/syncope, adalah suatu keadaan di mana terjadi kehilangan kesadaran dan postur tubuh (menyebabkan penderita jatuh) secara sementara. Pingsan merupakan suatu gejala dan bukan penyakit, sehingga pada kasus pingsan harus diketahui penyebab pingsan tersebut. Pingsan yang terjadi pada seseorang dapat merupakan gejala yang ringan sampai gejala yang mengancam jiwa. Dengan demikian, perlu diketahui tanda-tanda pingsan yang membahayakan jiwa.
Pingsan merupakan gejala yang umum terjadi, diperkirakan sepertiga dari kita pernah mengalami pingsan minimal sekali dalam hidupnya. Gjala pingsan dapat terjadi pada semua rentang usia, namun paling banyak terjadi pada orang tua. Gejala pingsan umumnya tidak berbahaya, namun pingsan dapat mengakibatkan komplikasi yang serius. Komplikasi kejang dapat terjadi pada pingsan akibat otak kekurangan oksigen. Pingsan yang disebabkan oleh penyakit jantung dapat bersifat fatal dan menyebabkan kematian.
Gejala pingsan terjadi dan timbul secara mendadak, dan biasanya menyebabkan trauma (akibat kehilangan postur tubuh dan pasien jatuh). Kehilangan kesadaran terjadi sementara dalam waktu detik hingga menit dan kemudian penderita akan kembali sadar. Pada beberapa kasus pingsan, terdapat gejala awal yang mendahului hilangnya kesadaran. Gejala awal yang dapat terjadi adalah mual, berkeringat, merasa berdebar-debar, pucat atau penglihatan kabur (menjadi gelap dan hitam atau menjadi putih). Gejala pingsan yang disebabkan oleh penyakit jantung akan memberikan gejala berupa nyeri dada, nyeri perut bagian ulu hati (epigastrium), sesak nafas, kelelahan terutama bila beraktivitas.
Banyak hal yang dapat menyebabkan pingsan pada seseorang. Secara umum, penyebab pingsan dapat dibagi dalam 3 kategori, yaitu sistem kardia (jantung), non-kardiovaskular, dan penyebab yang tidak diketahui.
Kelainan jantung menyebabkan pingsan karena tidak cukupnya aliran darah menuju ke otak yang bersifat sementara. Gangguan aliran darah ini biasanya disebabkan saat tekanan darah yang rendah atau hipotensi. Organ jantung yang berfungsi untuk memompa darah, tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen otak. Gangguan kerja jantung dapat disebabkan karena adanya penyempitan atau sumbatan pada aliran darah, gangguan otot jantung, atau gangguan irama jantung (denyut jantung terlalu cepat atau terlalu lambat).
Irama jantung yang terlalu lambat (bradikardia) umumnya disebabkan oleh faktor usia dan efek samping obat-obatan. Sementara pingsan akibat irama jantung terlalu cepat (takikardia) biasanya disebabkan karena riwayat penyakit jantung dan dapat mengancam jiwa. Penyempitan katup jantung seperti penyempitan katup aorta (pembuluh darah besar yang keluar dari jantung) dan pembesaran otot jantung (hipertrofi kardiomiopati) dapat menyebabkan pingsan pada seseorang akibat darah terhambat saat akan keluar dari jantung. Penyempitan katup jantung disebabkan oleh  kelainan bawaan, proses penuaan, atau penyakit rematik jantung.
Sebagian besar kasus pingsan yang terjadi disebabkan oleh penyebab non-kardia. Pingsan akibat gangguan dari kemampuan pembuluh darah untuk menyempit dan melebar (vasomotor) merupakan penyebab umum yang terjadi. Bila ada suatu rangsangan atau stimulus tertentu pada saraf vagus(salah satu saraf kranial, saraf yang keluar dan masuk ke otak), maka akan mengakibatkan hipotensi pada seseorang.
Beberapa rangsangan dapat merangsang reflex vasomotor, seperti berdiri terlalu lama, atau terpapar panas yang berlebihan, nyeri yang hebat, berada di tempat keramaian, atau melihat darah. Pingsan yang disebabkan oleh reflex vasomotor umumnya dapat kembali sadar karena setelah pingsan dan jatuh, gravitasi tidak lagi menarik darah ke kaki. Sebelum seseorang pingsan, ada beberapa gejala yang dapat dirasakan seperti, pucat, berkeringat, kepala terasa ringan, mual, berkeringat, telinga berdengung, atau penglihatan menjadi gelap.
Perubahan posisi yang mendadak, seperti  berdiri tiba-tiba dari posisi duduk,  dapat menyebabkan pingsan (hipotensi ortostatik) karena kegagalan pembuluh darah untuk menyempit sehingga darah banyak terkumpul di kaki dan otak mengalami kekurangan darah. Keadaan ini umumnya disebabkan oleh dehidrasi, diabetes mellitus (kencing manis), dan obat-obatan seperti obat pelebar pembuluh darah, dan obat diuretik (obat yang menyebabkan produksi urin meningkat).
Gangguan organ yang dapat menyebabkan pingsan antara lain sistem saraf, gangguan mental, gangguan paru-paru, dan metabolisme tubuh. Pingsan akibat gangguan saraf paling sering terjadi pada kasus kejang. Biasanya akan disertai denga gerakan tubuh yang menghentak, atau gejala aura(gejala yang timbul mendahului gejala kejang, seperti melihat kilatan cahaya, atau mencium bebauan tertentu). Penyakit stroke jarang menyebabkan hilang kesadaran kecuali mengenai pusat kesadaran di otak. Gangguan metabolisme juga jarang menyebab pingsan. Beberapa gangguan yang menyebabkan pingsan adalah rendah kadar gula darah (hipoglikemia), dan gangguan persediaan oksigen ke otak (hipoksia).
Pingsan dapat juga terjadi pada wanita hamil. Gejala pingsan yang terjadi pada wanita hamil umumnya disebabkan karena penekanan pembuluh-pembuluh darah besar saat kehamilan di arena hipotensi ortostatik. Serangan pingsan atau hilang kesadaran yang berulang tanpa sebab jelas dapat juga disebabkan oleh gangguan psikologi atau tindakan untuk mencari perhatian. Umumnya pada keadaan ini, serangan pingsan terjadi pada saat situasi yang tidak mengenakan penderita (seperti saat berdebat, atau akan menjalani sesuatu yang berat). Pada penderita yang benar-benar menglamai pingsan, penderita tidak akan ingat dengan pasti kejadian saat jatuh ke tanah. Karena pingsan dapat mengancam jiwa, maka harus diketahui beberapa bentuk pingsan yang berbahaya, seperti:
·         Pingsan yang terjadi saat berolahraga;
·         Pingsan yang dihubungkan dengan rasa deg-degan (palpitasi) atau denyut jantung yang tidak beraturan;
·         Pingsan pada seseorang dengan riwayat pingsan berulang atau kematian mendadak pada keluarganya;
·         Pingsan yang didahului dengan nyeri dada, dan sesak nafas ;
·         Pingsan yang didahului dengan gejala nyeri kepala hebat, pandangan menjadi dua atau double,gangguan koordinasi tubuh, dan gangguan berbicara.
            Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami pingsan, yaitu jarang berolahraga, kegemukan atau obesitas, merokok, minum alkohol berlebihan, dan penggunaan obat-obatan secara sembarang.
Pengobatan pada penderita gejala pingsan berdasarkan penyebab dari pingsan itu sendiri. Untuk mengetahui penyebab dan penyakit yang mendasari pingsan, beberapa pemeriksaan umumnya dilakukan oleh dokter. Mulai dari menggali riwayat pasien (anamnesis), pemeriksaan fisik (pemeriksaan tekanan darah dan lainnya), dan pemeriksaan penunjang (seperti rekam jantung, USG jantung, CT scan otak, pemeriksaan darah dan lainnya).
Bila ragu apakah gejala pingsan yang terjadi berbahaya atau tidak, tindakan yang tepat adalah memanggil bantuan medis dan segera berkonsultasi ke dokter. Pingsan yang disebabkan oleh jantung dapat menggunakan obat-obatan ataupun tindakan lain, seperti pemasangan alat pacu jantung pada pasien dengan gangguan irama denyut jantung.
Bila mengetahui penyebab dari gejala pingsan, tindakan yang dapat dilakukan adalah menghindari keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan gejala pingsan. Bila gejala pingsan timbul saat ada perubahan posisi tubuh yang mendadak, maka penderita dapat mengantisipasi dengan melakukan perubahan posisi secara perlahan dan diberikan beberapa detik sebelum berubah posisi lagi.
Pada kasus pingsan yang terjadi akibat terpapar panas yang berlebihan, pasien secepatnya dipindahkan ke tempat yang sejuk dan diberikan cairan pengganti bila penderita sudah sadar. Beberapa cara menurunkan suhu tubuh pasien adalah melepas pakaian dan penderita dibaringkan miring. Selain itu dapat diberikan kompres dingin pada daerah perut, ketiak, dan leher. Penggunaan kipas angin atau udara dingin efektif menurunkan suhu tubuh penderita. Hal penting yang diperhatikan adalah menjaga agar penderita tidak menggigil.
Pencegahan yang dapat dilakukan pada orang yang mengalami pingsan adalah mencegah dehidrasi dengan minum air yang cukup, dan menghindari penyebab pingsan, misal kelelahan atau kepanasan. Pada beberapa kasus pingsan yang didahului gejala-gejala lain, bila gejala tersebut muncul, penderita dapat segera berbaring telentang dan menaikkan kaki sehingga lebih tinggi daripada posisi kepala.
Kasus pingsan yang disebabkan oleh panas, dapat dicegah dengan mengurangi paparan panas dan meningkatkan asupan cairan sebelum, selama dan setelah terpapar panas. Cairan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung elektrolit yang seimbang. Cairan yang hanya mengandung air (H2O) dapat mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit. Pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah menghindari faktor-faktor risiko berupa jarang berolahraga, kegemukan atau obesitas, merokok, minum alkohol berlebihan, dan penggunaan obat-obatan secara sembarang.


klasifikasi cedera olahraga

Klasifikasi Cedera Olahraga

Secara umum cedera olahraga diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu :
a.    Cedera tingkat 1 (cedera ringan)
Pada cedera ini penderita tidak mengalami keluhan yang serius, namun dapat mengganggu penampilan atlit. Misalnya: lecet, memar, sprain yang ringan.
b.    Cedera tingkat 2 (cedera sedang)
Pada cedera tingkat kerusakan jaringan lebih nyata berpengaruh pada performance atlit. Keluhan bias berupa nyeri, bengkak, gangguan fungsi (tanda-tanda inplamasi) misalnya: lebar otot, straing otot, tendon-tendon, robeknya ligament (sprain grade II).
c.    Cedera tingkat 3 (cedera berat)
Pada cedera tingkat ini atlit perlu penanganan yang intensif, istirahat total dan mungkin perlu tindakan bedah jika terdapat robekan lengkap atau hamper lengkap ligament (sprain grade III) dan IV atau sprain fracture) atau fracture tulang.
d.    Strain dan Sprain
Strain dan sprain adalah kondisi yang sering ditemukan pada cedera olahraga.

1.    Strain
Straing adalah menyangkut cedera otot atau tendon. Straing dapat dibagi atas 3 tingkat, yaitu :
a)    Tinkat 1 (ringan)
Straing tingkat ini tidak ada robekan hanya terdapat kondisi inflamasi ringan, meskipun tidak ada penurunan kekuatan otot, tetapi pada kondisi tertentu cukup mengganggu atlit. Misalnya straing dari otot hamstring (otot paha belakang) akan mempengaruhi atlit pelari jarak pendek (sprinter), atau pada baseball pitcher yang cukup terganggu dengan strain otot-otot lengan atas meskipun hanya ringan, tetapi dapat menurunkan endurance (daya tahannya).
b)    Tingkat 2 (sedang)
Strain pada tingkat 2 ini sudah terdapat kerusakan pada otot atau tendon, sehingga dapat mengurangi kekuatan atlit.
c)    Tingkat 3 (berat)
Straing pada tingkat 3 ini sudah terjadi rupture yang lebih hebat sampai komplit, pada tingkat 3 diperlukan tindakan bedah (repair) sampai fisioterapi dan rehabilitasi.

2.    Sprain
Sprain adalah cedera yang menyangkut cedera ligament. Sprain dapat dibagi 4 tingkat, yaitu :
a)    Tingkat 1 (ringan)
Cedera tingkat 1 ini hanya terjadi robekan pada serat ligament yang terdapat hematom kecil di dalam ligamen dan tidak ada gangguan fungsi.
b)    Tingkat 2 (sedang)
Cedera sprain tingkat 2 ini terjadi robekan yang lebih luas, tetapi 50% masih baik. Hal ini sudah terjadi gangguan fungsi, tindakan proteksi harus dilakukan untuk memungkinkan terjadinya kesembuhan. Imobilisasi diperlukan 6-10 minggu untuk benar-benar aman dan mungkin diperlukan waktu 4 bulan. Seringkali terjadi pada atlit memaksakan diri sebelum selesainya waktu pemulihan belum berakhir dan akibatnya akan timbul cedera baru lagi.
c)    Tingkat 3 (berat)
Cedera sprain tingkat 3 ini terjadinya robekan total atau lepasnya ligament dari tempat lekatnya dan fungsinya terganggu secara total. Maka sangat penting untuk segera menempatkan kedua ujung robekan secara berdekatan.


d)    Tingkat 4 (Sprain fraktur)
Cedera sprain tingkat 4 ini terjadi akibat ligamennya robek dimana tempat lekatnya pada tulang dengan diikuti lepasnya sebagian tulang tersebut.